Kamis, 25 November 2010

Matius Yuniawan Nugraha

Melintasi Kematian kepada Hidup

           Kematian, siapa pun kita dan semampu apa pun kita mencoba menghindarinya, adalah sebuah kenyataan yang menyakitkan dan pahit. Sebuah peristiwa alam yang sekaligus menyimpan seribu pertanyaan dan misteri yang tak pernah terjawab secara persis, sampai kita sendiri mengalaminya. Dan ironisnya ini adalah sebuah pengalaman yang tak terbagikan dan gelap. Kematian yang kita alami sekarang ini—apalagi yang datang dan mengambil orang-orang yang kita kasihi—, apa pun yang baik dan berarti yang kita peroleh darinya, adalah sebuah penderitaan bagi siapa pun. Tak satu pun dari kita, yang secara sadar dan alami, menginginkannya. Saat-saat penderitaan seperti itu, menjadi berat kita rasakan manakala tak ada orang lain yang mengisi ruang kosong cinta yang kita peroleh dan berikan pada orang yang meninggal itu. Saat-saat seperti itu, seegois apa pun kita, membutuhkan seorang teman, seorang kawan seperjalanan yang menyadarkan bahwa semuanya itu bukan akhir dari segalanya.
            Kesadaran bahwa peristiwa itu bukan akhir segala, hanya kita temukan dalam kepercayaan. Kepercayaan itu adalah kepercayaan akan sesuatu, karena tak satu pun dari kita yang tak percaya sama sekali akan apa pun. Dalam bahasa kita, itu kita temukan dalam iman. Dan iman yang menyatakan bahwa kematian hanya sebuah jalan pada hidup yang baru adalah iman yang Yesus ajarkan dan tunjukkan kepada kita dalam hidupNya, yakni akan kebangkitan. Sesudah semua isak tangis dan keluh kesah melerai duka karena penghiburan dari sesama, iman inilah yang akan menyembuhkan luka dan derita selama kita menghadapi peristiwa-peristiwa kematian.
            Tema akan kebangkitan inilah yang sedang kita renungkan dalam bacaan-bacaan Kitab Suci yang kita simak dalam Minggu Pra-paskah kelima ini. Melalui renungan sabda minggu ini kita diajak masuk dalam suasana yang sedang dihadapi Yesus dan para murid yang sedang menuju Yerusalem, cemas dan sedih, namun juga penuh keberanian dan pengharapan yang besar akan sesuatu yang berarti. Cemas dan sedih, karena harus menghadapi penderitaan dan bahkan menyongsong kematian, yang tentu bukan karena dicari, namun karena sesuatu yang harus dihadapi sebagai konsekuensi dari sebuah perjuangan kebaikan manusiawi dan ilahi yang ditunjukkanNya bersama para murid. Berani dan penuh harapan, karena melalui Yesus kita menjadi yakin bahwa semua itu bukan akhir dari segalanya, dari apa yang diajarkan dan ditunjukkanNya dalam apa yang kita sebut sebagai Misteri Paskah; penderitaan, kematian dan kebangkitanNya.
            Kisah tentang kebangkitan Lazarus (Yoh 11:1-4), secara persis ingin menunjukan berbagai aspek penting dari iman kita akan Yesus Kristus yang menjadi manusia, yang kepadaNya kita menggantungkan harapan kita akan hidup yang akan dan sedang datang.
            Yang pertama, Yesus menunjukkan kepada kita sebuah contoh sikap solider dan empati yang sejati dalam situasi penderitaan sesama. Salah satu ciri khas Yesus dalam Injil Yohanes adalah kasihNya yang mendalam pada teman-temannya di Betania; Lazarus, Marta dan Maria. Kita bisa membayangkan betapa menderitanya dua saudari itu yang harus menghadapi pertama masa-masa sakit Lazarus yang kemudian berakhir dengan kematian. Dalam situasi yang sulit, berat dan menyedihkan sesamanya itu, Yesus memberi kita teladan bagaimana bersikap sebagai sahabat sejati, mewujudkan apa yang sering kita slogankan—“sahabat itu adalah sahabat dalam susah dan senang”—namun sulit kita wujudkan dalam hidup. Dalam keilahianNya, Yesus sungguh menjadi sangat manusiawi. Ia menangis dengan orang yang menangis (ay.35). “Lihatlah, betapa kasihNya kepadanya” (ay.36). Sebuah pertanyaan menyapa kita di sini; apakah kita juga mampu mengasihi sesama yang bersedih dan menangis dengan ribuan penderitaan yang tak sebanding dengan penderitaan-penderitaan kecil kita?
            Yang kedua, kebangkitan yang ditunjukkanNya atas Lazarus adalah tanda bahwa Ia adalah Allah kehidupan, bukan Allah atas kematian. Kisah kebangkitan ini, dan juga kisah-kisah serupa dalam Kitab Suci (antara lain dalam Mrk 5:35-43, Luk 7:11-17), semua harus dijelaskan dengan merasuk lebih dalam pada arti dari kebangkitan itu, yang tentu berbeda dengan apa yang kita sebut sebagai kebangkitan Yesus. Melampaui semua penjelasan ilmiah yang bisa kita dapat (penyembuhan dari situasi katalepsis atau kematian medis yang tampak dari tidak berfungsinya tanda-tanda vital yang bisa dirasakan, sebuah pengalaman kembali setelah melewati apa yang dikenal dengan tunel dan sejenisnya seperti dalam kisah Life after life, dsb.), dan di balik semua, hendak mengatakan pada kita bahwa dalam situasi negatif apa pun, selalu ada harapan akan sesuatu yang baik dan menghidupkan, jika kita hayati dalam iman akan Allah yang diwahyukan dalam Yesus Kristus: seorang Allah yang adalah Tuhan atas hidup, Allah yang—sebagaimana disebut nabi Yehezkiel dalam bacaan I Minggu ini—mampu membuka kubur-kubur kita untuk kemudian menghembuskan RohNya agar kita hidup (Yeh 37:12), menghasilkan dalam setiap dari kita suatu ciptaan baru, dan seperti disebut oleh Paulus dalam bacaan II; dengan kekuatan Roh, Allah yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati, “akan menghidupkan tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu” (Rom 8:11).
            Bukankah kebangkitan Yesus itu nyata dalam hidup kita dan dinamika hidup dunia yang kita alami saat ini? Betapa ajaran dan hidupNya itu menjadi begitu fundamental dalam setiap dari gerak hidup manusia dewasa ini? Apakah ajaran cinta dan cinta yang diwujudkanNya itu bukan merupakan suatu kekuatan semesta sampai saat ini? Kita tak mungkin membayangkan bagaimana kita dan dunia yang suka akan kebencian ini selamat, tanpa ajaran cintaNya akan musuh, akan bagaimana harus mengampuni yang bersalah, dsb. Dunia sudah tak mungkin hidup tanpa ajaran dan hidup Yesus. Inilah bukti kebangkitanNya yang kita alami setiap hari, bahkan setiap saat dalam tradisi-tradisi hidup yang mengikis sedikit demi sedikit budaya-budaya kematian kita. Dalam pengalaman yang lebih intim, bukankah segala nilai dan kebaikan dari saudara-saudari kita yang telah meninggal telah dan masih menjadikan, menumbuhkan dan  mengemban serta menghidupkan keseharian kita? Kita selalu hidup dalam pengalaman ini, sadar atau tidak.
            Yang ketiga, iman itu adalah kondisi tak terelakkan untuk melihat kemuliaan Allah. Kata-kata Yesus; "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?" (ay.40), yang ditujukan kepada Marta dalam Injil minggu ini, juga ditujukan pada kita di sini dan sekarang. Melihat kemuliaan Allah itu, dalam bahasa biblis adalah mengalami dan mengenal kekuatanNya yang adalah cinta, yang hadir dan selalu berperan dalam situasi-situasi kongkret hidup kita, yang membuka kemungkinan untuk hidup kembali meskipun ada banyak situasi negatif yang kita hadapi; betapa pun gelap dan seolah tak teratasi masalah-masalah hidup kita.
            Akhirnya, menutup renungan kita minggu ini, pantaslah kalau kita mohon, pada Tuhan Kehidupan, agar iman kita akan kebangkitan yang Yesus ajarkan dan saksikan dalam hidupNya, menjadi semakin dalam dan nyata dalam hidup kita. Iman yang mengantar kita pada kesadaran akan sesama yang menderita, yang mengundang kita untuk menjadi makin manusiawi dalam kepekaan kita pada penderitaan orang lain; iman yang meyakinkan kita akan pengharapan yang selalu ada pada situasi-situasi kematian kita sehari-hari; dan juga iman yang mengundang kita untuk mengakui kemuliaanNya yang tak pernah selesai. KemuliaanNya yang adalah kemanusiaan kita.

0 komentar:

Posting Komentar