Rabu, 06 Juli 2011

Sebuah Kisah Kecil di Klaten


Sebuah Kisah Kecil di kota Klaten
Hampir  saja saya lupa jika tanggal 27 Februari adalah hari kelahiran saya. Jika saja seorang teman yang jauh di sana tidak memberitahu saya tiga hari sebelumnya, saya bisa benar-benar lupa melewati tanggal istimewa itu. Saya bilang istimewa karena sepanjang hidup saya tanggal dan bulan tersebut demikian mengatur dan berkuasa atas usia saya. Saya tahu, setiap tanggal 27 Februari, saya mesti sadar bahwa usia selalu terus berjalan dan saya harus menghitungnya sebagai bentuk lain dari sebuah pertanyaan soal apa yang selama ini telah saya perbuat untuk hidup saya, dan untuk apa yang berada di luar diri saya. Sebab ternyata usia bukan sekedar hitungan angka-angka, tapi juga semacam ukuran untuk menilai sejauhmana perubahan kualitas hidup saya.
Menjelang tanggal 27 Februari tahun ini, saya melewatinya dengan duduk sendirian berlama-lama di sebuah tempat sunyi yang jauh dengan teman-teman dan keluarga saya. Seperti hari-hari sebelumnya, tanggal 27 Februari ini, saya menikmati senja yang turun, warna daun hijau, nyanyian burung-burung kecil, dan kerlip bintang di malam hari. Saya berjalan di melewati luas pesawahan, merasakan tiupan angin yang sejuk dan menikmati lampu-lampu berbaris di kaki-kaki gunung. Ketika malam semakin larut, saya pulang dan kembali menyelesaikan beberapa pekerjaan di depan komputer. Ah, semua laporan kegiatan harus selesai dan dikirim besok; padahal saya ingin menulis beberapa puisi dan cerita pendek.
Terkadang saya ingin melewati hari ulang tahun saya bersama orang-orang yang saya kenal baik, tapi barangkali sudah bukan saatnya lagi, tak perlu lagi. Barangkali mengingatnya saja sudah cukup; barangkali saya akan melewati malam itu seperti juga malam-malam yang lainnya, konsentrasi di depan komputer sampai menjelang shubuh, dan di separuh siang harinya melakukan hal yang sama. Tepat jam 12 malam, tanggal 27 Februari, saya memang menerima SMS dan telepon ucapan selamat ulang tahun. Mereka dua orang teman perempuan yang masih mengingat tanggal kelahiran saya. Mereka kirim saya doa. Setelah itu hening, seperti sejenak berjumpa dan saling menyapa dengan seseorang di sebuah tikungan jalan di malam hari, dan akhirnya berpisah. Sepi kembali.
Barangkali hidup juga seperti itu, adakalanya kita menikmati sesuatu yang ramai, riuh penuh perbincangan, saling merapat dan berdesakan, tapi kelak sendiri dan sepi. Saya mesti siap dengan hal itu. Saya tak perlu kecewa. Saya memang bisa tak punya masalah yang serius dengan kesendirian. Saya bisa belajar dan memahaminya sebagai semacam keindahan menikmati hidup dan keseharian. Tak ada janji pertemuan, tak ada jadwal yang padat di luar rumah; saya hanya terbangun dari tidur tanpa kata-kata, mandi, menyiapkan air putih, membuka buku dalam beberapa menit, dan menerima telepon dalam suasana ruangan yang saya sukai. Hal itu sudah cukup bagi saya. Tapi di hari yang bagi saya sangat istimewa kali ini, ternyata tiba-tiba saya membutuhkan sesuatu yang lebih, barangkali tak hanya sekedar kata.
Tanggal 27 Februari, saya bangun pagi lebih awal karena beberapa SMS membangunkan saya. Ucapan selamat ulang tahun dari beberapa teman, dan saya kirim mereka ucapan terima kasih, tentu saja, dengan bahasa yang berbeda. Saya ingat, sampai hari menjelang siang, beberapa teman yang saya kenal dekat belum mendoakan saya di hari ulang tahun kali ini, juga keluarga saya. Ah, mungkin mereka lupa. Tak perlu lah saya beritahu mereka, mungkin tak penting. Bahkan orang-orang di sekolah Sapa pun tak mengucapkan selamat ulang tahun pada saya. Tak apalah. Mereka lupa dan saya tahu mereka masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Lalu saya iseng buka Facebook, Wah rupanya banyak ucapan selamat ulang tahun dari beberapa teman online, tak ketinggalan ucapan singkat si Kakak yang belakangan ini sempat lelah menyuruh saya membereskan urusan sekolah.